Penyesatan Pendidikan

Penyesatan Pendidikan

  • Penulis: Raga Affandi

We don’t need now education

We don’t need now thought control

No dark sarcasm in the classroom

Hey, teachers, leave those kids alone…..

NUKILAN lirik lagu di atas berjudul Brick in the Wall yang diciptakan Pink Floyd, sebuah grup band super asal Inggris, di tahun 1975. Lagu yang tergabung dalam album The Wall ini meledak di pasaran dan merupakan gambaran terjadinya perubahan dalam memaknai pendidikan yang sudah dikenal di Eropa dan Amerika Utara sejak sebelum Perang Dunia II. Perubahan radikal dalam konsep pendidikan ini menggerakkan negara-negara maju untuk mengembangkan pendidikan menjadi lebih tidak terbatas dan menampilkan pergeseran gaya hidup dari era industrialisasi menjadi era pasca industrialisasi.

Sehebat itukah pengaruh sebuah lagu sehingga dapat menggerakkan Presiden John F. Kennedy menata ulang format dan struktur pendidikan di Amerika Serikat? Tentu saja tidak. Pink Floyd secara cerdas menerjemahkan obsesi para pemikir pendidikan seperti Ivan Illich, Paulo Freira dan kawan-kawan ke dalam bentuk yang lebih populer namun menghunjam tepat di jantung perubahan, anak-anak muda itu 30 tahun yang lalu, sebuah rezim pendidikan yang berpihak pada proses dehumanisasi telah ditumbangkan. Di Indonesia, gaya pendidikan yang sudah ditumbangkan itu, malah menjadi pedoman mutlak bagi seluruh unsur-unsur pendidikan di Indonesia.

Lalu, seperti apakah rezim pendidikan yang telah ditumbangkan oleh masyarakat maju 30 tahun silam tersebut?

Di dalam bukunya, The Third Wave, Alvin Toffler menyebutkan bahwa premis dasar terbentuknya gaya pendidikan di Eropa dan Amerika berubah sejak Revolusi Industri. Revolusi Industri melahirkan sebuah gaya hidup yang khas, yaitu umat manusia dipaksa untuk melayani mesin. Ketika semua enerji dan aset bumi ini dikerahkan untuk kepentingan mesin-mesin tekstil, mesin uap dan mesin-mesin lainnya, pendidikan pun diarahkan untuk melayani kebutuhan industri. Para tenaga terdidik menjadi bagian tak terpisahkan dari lajunya gerakan industrialisasi di segala bidang. Mengingat bahwa pekerjaan di dunia industri pada dasarnya adalah pekerjaan yang sederhana, efisien, rutin namun sangat tidak manusiawi, karena sifatnya yang menjadi pelayan mesin, membuat dunia pendidikan hanya menyiapkan tenaga terdidik yang juga sederhana, terampil, patuh, dengan sikap dan perilaku yang seragam. Hal itu berlangsung cukup lama, bahkan kondisi tersebut dipertajam oleh terjadinya Perang Dunia II yang secara sistematik menempatkan seluruh sumber daya manusia sebagai pelayan mesin perang!

Pengaruh psikologi massa dari sistem pendidikan yang menempatkan manusia sebagai robot yang seragam mengakibatkan umat manusia menjadi penuh tekanan sehingga meningkatkan agresivitas secara massal. Sebagian ahli psikologi percaya bahwa Perang Duinia II merupakan titik kulminasi dari situasi manusia di dunia yang tertekan oleh gaya hidup industrialisme. Tekanan ini memicu lahirnya generasi bunga di San Fransisco dan hal ini dipercaya mendongkrak popularitas narkotik dan obat-obatan psikotropika. Industrialisasi, dengan demikian, dipercaya menjadi agen dari proses dehumanisasi dan keruntuhan agama-agama di Eropa dan Amerika. Sampai pada akhirnya di awal tahun 1970, masyarakat dunia tersadar bahwa pendidikan tidak seharusnya menjadi alat dunia industri untuk menempatkan manusia menjadi robot pelayan mesin, namun menjadi pelaku utama perubahan dan menempatkan dunia industri pada proporsinya untuk membantu manusia dalam meraih posisinya sebagai makhluk termulia di dunia.

Sejak saat itu, di negara-negara maju, telah lahir sebuah era yang dinamakan era pasca industri, era informasi atau era post modern.

Industrialisasi dipercaya menggerogoti intuisi-intuisi manusiawi. Industrialisasi juga yang mengakibatkan timbulnya ideologi-ideologi besar di saat ini, yaitu kapitalisme dan komunisme. Kapitalisme didukung oleh para pemegang modal dan pemilik pabrik sedangkan komunisme diamini oleh para buruh dan pekerja yang tidak pernah beranjak nasibnya sebagai pelayan para majikan. Pemahaman mendalam mengenai industrialisasi sebagai sebuah epistemologi dari semua gejala yang tampil di masa ini memperlihatkan bahwa ketercabikan peran dan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini mengakibatkan munculnya persoalan yang tiada habisnya dan secara sistematik menempatkan manusia industri terus mengalami pemiskinan terstruktur di segala bidang.

Celakanya, di Indonesia, industrialisasi masih dianggap dewa yang mampu menyelamatkan penduduknya dari kemiskinan duniawi. Kepercayaan yang begitu tinggi terhadap peran industrialisasi sebagai cara menyejahterakan rakyat Indonesia, diikuti secara telak dan dogmatik oleh para stakeholder pendidikannya. Ketika industrialisasi dianggap sebagai sumber malapetaka bagi negara-negara maju, Indonesia bahkan menempatkan industrialisasi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dalam bidang pendidikan.

Kepercayaan buta para stakeholder pendidikan terhadap industrialisasi sebagai orientasi pendidikan sudah sepatutnya dipertanyakan. Sudah diperlukan wacana bahkan kebijakan baru dalam dunia pendidikan untuk mengubah paradigma yang selama ini sudah ketinggalan jaman. Diperlukan paradigma baru dalam menyiapkan peserta didik tidak lagi sebagai pelayan industri, melainkan sebagai manusia yang kreatif, mandiri, yang mengendalikan perubahan dan mengenal dirnya sendiri. 30 tahun bukan waktu yang lama untuk dikejar. Masyarakat negara maju lebih mempercayai pendidikan yang berorientasi pengembangan tak terbatas dari peserta didiknya. Hasilnya adalah kemampuan para lulusannya dalam mengendalikan dan mengembangkan penemuan-penemuan baru, tidak lagi mengekor pada kepatuhan buta sebuah era lama.

Ketika dunia Industri Indonesia hanya mampu menyerap sekitar 3 juta calon pekerja di tahun 2007, sekolah-sekolah di Indonesia sudah menyiapkan 14 juta calon robot pelayan mesin di tahun yang sama. Kumulasi selama 10 tahun saja akan menjadikan sekolah-sekolah di Indonesia berhasil menciptakan 100 juta alien yang tercerabut dari sumber kehidupan sesungguhnya berupa lahan-lahan subur dan laut yang luas dan kaya.

Jika hal ini belum dianggap sebuah krisis di bidang pendidikan, entah apa lagi namanya!

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengayaan Konsep Gender

Memperkaya Konsep Gender

 

Kesetaraan Gender adalah sebuah isu yang sensitif akhir-akhir ini. Beberapa peristiwa seperti kasus-kasus penyiksaan TKI di luar negeri, kasus Manohara, kasus Syekh Puji dan paling akhir, kasus Cici Faramida, memperlihatkan bangunan sosial di sekitar kita memerlukan introspeksi dan rekonstruksi nilai dasar. Kasus-kasus yang melibatkan para pesohor hanya sebuah fenomena puncak gunung es. Beberapa dari kita mengaitkannya dengan isu kesetaraan gender yang masih belum menjadi perilaku alamiah dalam masyarakat kita.

Gerakan kesetaraan gender belum menyentuh alam bawah sadar masyarakat untuk menjadikan kesetaraan gender menjadi perilaku masyarakat seutuhnya. Untuk itu diperlukan sebuah modifikasi perilaku agar kesetaraan gender mengendap dan muncul sebagai perilaku alamiah. Namun sebelum melakukan modifikasi perilaku, ada baiknya kesetaraan gender sebagai sebuah konsep etis diperkenalkan dulu.

 

Responsif Gender sebagai Perilaku Alamiah

Walaupun negara kita sudah meratifikasi semua konvensi internasional tentang kesetaraan gender, gaung yang kencang hanyalah usaha bersifat parsial dan periferal yang belum menyentuh dasar tujuannya, yaitu perubahan perilaku masyarakat. Sikap responsif gender selama ini masih berada di wilayah ‘kesadaran’, belum terinternalisasi menjadi  faktor penggerak perilaku, baik perilaku individual maupun sosial.

Memahami perilaku seseorang harus dilihat dari seberapa besar pengaruh kesadaran dan ketidaksadaran seseorang terhadap perilakunya sendiri. Bagi Freud, perilaku seseorang dipengaruhi 1/6 alam sadar dan 5/6 alam bawah sadar. Alam sadar adalah seluruh hal-hal yang bisa kita ingat berikut pengaruhnya terhadap kepribadian kita. Alam bawah sadar, adalah seluruh lapisan ingatan (yang sudah terlupakan) sejak dalam kandungan sampai saat ini. Lapisan ingatan tersebut terendam dalam sebuah atmosfir yang menimbulkan efek interaktif antar lapisan, sehingga kadang-kadang gejalanya muncul dalam mimpi-mimpi maupun perilaku a-sadar lainnya.

Rangkaian perilaku individual dimulai dari kombinasi alam sadar dan alam bawah sadar. Kedua alam ini berkontribusi secara rumit mengarahkan perilaku manusia, mulai dari mempersepsi materi, tindakan refleks, mengambil keputusan, memecahkan masalah, bereaksi, berkhayal, merespons stimulus, dan lain-lain. Perilaku individual bermuara pada perilaku sosial. Perilaku sosial membentuk pola-pola perilaku yang dinamakan kebiasaan (habit). Kebiasaan, akhirnya menjadi subsistem dari kebudayaan yang diterima sebagai pedoman perilaku (code of conduct) lanjutan. Sesudah melalui proses reduksi perilaku deviasi dan akulturasi, kebudayaan akhirnya melakukan proses pengarusutamaan perilaku alamiah sehingga berujung menjadi umpan balik mengalirnya penguatan perilaku individual.

Seluruh proses dan mekanisme besar menuju terbentuknya budaya ini, uniknya, lebih banyak bekerja secara tidak disadari. Kebudayaan dunia tidak dinilai dari karya sadar individual, tapi justru merupakan karya a-sadar sosial.

 

Modifikasi Perilaku

Situasi pembentukan perilaku individual secara ilmiah akhir-akhir ini sudah dilakukan. Teknik itu dinamakan modifikasi  perilaku. Teknik ini menekankan proses internalisasi konsep nilai, indoktrinasi atau perintah lainnya menjadi bagian bawah sadar manusia melalui berbagai metode. Hal itu dilakukan sampai nilai tersebut mendapatkan penguatan afeksi atau sentimen internal individu. Ketika nilai-nilai tersebut sudah didukung oleh sentimen, maka tindakan terakhir adalah menempatkan nilai tersebut menjadi pemicu perilaku (konasi).

Modifikasi perilaku ala kaum behavior ini sukses mencuci otak generasi muda Jerman di tahun 1940-an. Mereka, diwakili SS, adalah pendukung setia Hitler, dan menjadi penyambung lidah paling gigih sang pemimpin Nazi.

Jika perlakuan behavioristik terhadap individu disebut modifikasi perilaku, maka jika dilakukan terhadap masyarakat disebut rekayasa budaya (cultural engineering). Ide dasarnya sama, tapi melibatkan lebih banyak massa dan sistem yang sangat rumit.

 

Menyiapkan Konsep Kesetaraan Gender

Untuk menjadikan sebuah nilai menjadi pemicu tingkah laku, diperlukan studi mendalam tentang nilai-nilai itu sendiri. Apakah nilai terbut menimbulkan manfaat atau mudharat bagi penganutnya? Sebuah komunitas adalah kelompok manusia yang unik dan sangat tergantung dengan wacana lokal, walaupun juga berpijak pada dorongan universal umat manusia. Diperlukan pemahaman mendalam tentang sistem nilai yang sudah ada, faktor resistensinya. Hal itu akan menjadi bahan kajian strategis, agar proses internalisasi nilai baru dapat berjalan mulus.

Mengikuti pelatihan pengarusutamaan gender yang dilaksanakan GTZ di Pekalongan, modul kesetaraan gender nampak mengalami penyederhanaan berlebihan. Konsep yang disampaikan oleh narasumber menampilkan linearitas yang tidak menggambarkan kompleksitas reformasi budaya.

Berbeda dengan upaya sosialisasinya yang sangat masif, konsep gender seperti berjalan di tempat. Begitu kering dan sangat sederhananya konsep tersebut sehingga perlu ditanyakan, apakah konsep kesetaraan gender ini bisa menjadi pemicu dekonstruksi budaya yang sudah berjalan ribuan tahun. Apakah pembuat konsep ini menyadari bahwa melakukan rekayasa budaya memerlukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti: dimanakah pernah terjadi situasi ideal gender sebagai arus utama seluruh kebijakan dan perilaku publik dalam sebuah entitas budaya atau komunitas? Kontribusi apa yang diberikan masyarakat sensitif gender terhadap perkembangan taraf hidup masyarakat madani (pertumbuhan ekonomi, peningkatan index HDI, tumbuhnya toleransi, kesejahteraan, demokratisasi, kehidupan beragama, perlindungan hak azasi, kesinambungan sumber daya, dan lain-lain)? Situasi baik dan buruk seperti apa yang akan terjadi jika kesetaraan gender menjadi nilai yang terinternalisasi secara sempurna?

 

Di dalam konsep itu, faktor yang mempengaruhi gender pun hanya faktor biologis. Jika itu saja yang mempengaruhi, akan timbul pertanyaan, bagaimana mungkin hampir seluruh kebudayaan di dunia menganut model patriarkhat? Kebudayaan tidak memilih, dia adalah rangkaian praksis dan sintesa perilaku manusia. Di masa awal peradaban manusia, belum ada metode-metode modifikasi perilaku dan rekayasa budaya seperti saat ini, sehingga mustahil kelompok lelaki memaksakan konsep dominasi terhadap kaum perempuan. Karenanya, model patriarkhat tetap dianggap sebagai produk perilaku alamiah.

 

Selain Jenis Kelamin

Konsep gender tidak cukup hanya dipengaruhi jenis kelamin saja. Di luar jenis kelamin, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi bangun budaya saat ini yang cenderung patriarkhat. Faktor-faktor yang menyertai terbentuknya bias atau ketidakadilan gender yang paling penting adalah faktor fisiologis dan psikologis.

Faktor fisiologis menjadi penting karena sekresi hormon dan enzim pada lelaki dan perempuan tidak sama. Beberapa hormon dan enzim diproduksi lebih banyak oleh lelaki, begitu juga sebaliknya. Hal itu mempengaruhi tampilan dan persepsi tentang tugas gender. Beberapa hormon mempengaruhi penyempitan pori-pori, sehingga perempuan mempunyai kulit yang lebih halus dari kaum pria. Di beberapa kasus transgender, faktor biologis menjadi kurang penting, karena walaupun secara fisik seseorang berjenis kelamin lelaki, tapi produksi kelenjar progresteron berlebih menempatkannya sebagai perempuan.

Faktor psikologis lebih rumit lagi. Motif-motif atau naluri dasar perempuan kebanyakan berbeda dengan naluri dasar kaum pria. Saat melakukan hubungan seksual, lelaki sepenuhnya bermotif biologis. Bagi perempuan, hubungan seksual didasari motif psikologis. Orgasmus bagi perempuan lebih berkonotasi mental ketimbang fisik. Naluri reproduktif, luapan penyerahan, rasa memuja, rasa terlindungi, harapan berbagi, keterpenuhan fungsi, kebanggaan, dan masih banyak lagi aspek psikologis, adalah gejala nyata orgasmus perempuan daripada kontraksi biologis. Inilah yang muncul sebagai perilaku alamiah, sebagai arus utama atribusi budaya tentang perempuan.

Masih banyak faktor psikologis selain penelusuran motif-motif. Keterkaitan antara faktor fisiologis dengan psikologis juga sangat erat, jauh lebih erat daripada keterkaitannya dengan faktor jenis kelamin. Beberapa variabel lain juga mempengaruhi terjadinya ‘ketidaksetaraan’ gender, seperti terjadinya bahasa, terbentuknya pranata-pranata sosial, terbentuknya spiritualisme. Faktor-faktor ini tentu saja memerlukan diskusi mendalam dengan para ahli linguistika, ahli antropologi, tokoh-tokoh agama, guna mendapatkan konsep yang lebih kokoh, radikal, dan komprehensif sehingga dapat memicu lahirnya sebuah era baru, gaya hidup baru dan epistemologi baru, yaitu era kesetaraan gender. Semoga

 

Raga Affandi, pemerhati gender di Pekalongan

Dipublikasi di Skeptis | Meninggalkan komentar

Memanfaatkan Libur Sekolah

LIBUR, PROSES PENDIDIKAN YANG SESUNGGUHNYA

 

Libur panjang sekolah-sekolah pendidikan dasar sudah dimulai. Beberapa kelompok anak-anak mulai mengisi jalan-jalan kampung dengan bermain bola dan bulutangkis jalanan. Sebagian lainnya mulai mengisi moda-moda transportasi dengan ransel di punggung. Tidak sedikit anak-anak yang mengerubungi warnet dan play station untuk mengisi waktu senggang mereka.

Kehidupan Nyata

Begitu senggangnya waktu mereka, sehingga terbersit kekhawatiran mereka akan terseret dalam arus kehidupan menyimpang. Kekhawatiran ini menjadi wajar, mengingat pendidikan di sekolah tidak cukup membekali anak untuk hidup di kehidupan nyata.

Sekolah memang belum merupakan institusi par excellence yang fasih mentransformasi dinamika kehidupan nyata menjadi bekal terstruktur bagi anak didik mereka. Dengan kata lain, sekolah-sekolah kita bukan merupakan wadah pendidikan kontekstual, namun lebih berupa penerus pesan-pesan tekstual yang tertera dalam buku-buku cetakan. Alhasil, para murid harus belajar sendiri, mengambil informasi sendiri, melakukan model-model pembelajaran sendiri, untuk memahami dunia sekelilingnya yang terus menerus berubah. Para murid, tanpa bimbingan memadai, melakukan upaya divergen yang rumit secara uji coba untuk tetap menjadi dirinya di lingkungannya yang khas dan terbatas. Upaya rumit tersebut merupakan operasi-operasi intelektual tingkat tinggi, seperti melakukan interaksi, aksi, refleksi, menganalisis, memecahkan masalah, membuat pendekatan-pendekatan (approaching), menemukan dan mencipta, maupun operasi-operasi lain yang sudah jarang diajarkan di bangku-bangku sekolah.

Bagi sebagian besar anak-anak, sekolah adalah sebuah proses pendidikan bersifat konvergen yang menegangkan dan melelahkan. Mereka diisolasi dalam sebuah dunia penuh rumus, pengulangan dan keteraturan. Gaya para guru yang mayoritas cenderung superior, membuat mereka selalu bermimpi untuk segera menikmati liburan yang membebaskan. Sekolah kita secara tidak seimbang memang lebih mementingkan pendidikan kognitif yang steril ketimbang pendidikan terhadap aspek lainnya, afektif dan psikomotor. Hal tersebut berakibat anak-anak tidak siap berinteraksi dengan dunia nyata. Ditambah dengan isu-isu manusia dewasa: kriminalitas, pornografi, etika dan isu lainnya, lengkaplah kekhawatiran para orang tua yang melihat anak-anak sebagai obyek dari keberingasan dunia nyata.

Liburan sebagai Pelengkap Pendidikan

Di negara-negara maju yang sudah menempatkan anak sebagai subyek pendidikan, perkemahan musim panas, kegiatan kepanduan, maupun latihan praktek dunia nyata menjadi agenda utama dalam mengisi liburan. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat terorganisir dan bahkan menjadi kegiatan yang bergengsi. Melalui skema program yang mendidik, anak-anak didorong untuk melatih kemampuan berinteraksi, memecahkan masalah, melakukan refleksi, berkreasi secara kontekstual. Melalui simulasi lingkungan nyata, mereka belajar mengeksplorasi dan mengelaborasi lingkungannya secara efektif .

Bagian tersulit dari kegiatan ini justru terletak pada orang-orang dewasa yang terlibat. Bagi yang tidak terbiasa, orang dewasa sulit menurunkan egoisme mereka dan memahami kegiatan anak-anak itu apa adanya. Operasi-operasi intelektual tingkat tinggi dilakukan oleh anak-anak itu secara sederhana, kadang-kadang menggelikan dan mudah diduga. Orang-orang dewasa yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut harus dibekali dengan empati yang mendalam.

Selain itu, para orang tua perlu memperbaiki pandangannya tentang anak-anak mereka, bahkan menempatkan mereka dalam posisi penting dalam kehidupan bersama. Anak-anak dalam masyarakat maju, dilindungi oleh undang-undang yang ketat, sehingga mereka mempunyai nilai tinggi sebagai penerus masa depan bangsa.

Di Pekalongan

Banyak wahana di Pekalongan untuk mengajak anak berlatih kterampilan afektif dan psikomotor. Belajar membatik adalah salah satunya. Proses membatik terdiri dari beberapa sub-proses mulai dari kegiatan sederhana seperti menutup kain dengan malam, sampai kegiatan pemasaran yang membutuhkan operasi intelektual yang kompleks.

Bagi anak-anak usia sekolah dasar, keterampilan jari (finger dexterity) merupakan latihan yang berkaitan dengan koordinasi syaraf dan kecepatan bereaksi. Hal ini akan menjadi modal bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia sekitar

Wahana lain adalah menyelenggarakan kegiatan perkemahan yang lokasinya banyak tersebar di wilayah kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang. Kegiatan perkemahan secara luas mendidik anak-anak untuk mandiri, berinteraksi, memecahkan masalah, melakukan pendekatan masalah, pemetaan wilayah, dan operasi intelektual rumit lainnya.

Menjadi Kreatif

Muara pendidikan di waktu libur adalah mengembangkan kreativitas anak dalam menghadapi kenyataan hidup. Keterampilan psikomotor dan keterampilan sosial yang didapatkan dari kegiatan berkemah, latihan kerja dan kepanduan akan menjadi bekal bagi anak untuk mengembangkan karakter mereka.

 

Raga Affandi, pengamat pendidikan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jakarta, oh Jakarta

Jakarta oh Jakarta

 

Terlalu banyak kabar berita dari dan tentang Jakarta yang aneh-aneh. Saking banyaknya berita ‘aneh’ dari Jakarta yang memasuki relung hati kita, kadang kita tidak yakin apakah itu hanya bualan atau fakta. Lebih menyedihkan, berita buruk dari Jakarta sering menjadi inspirasi orang daerah untuk ikut mempopulerkannya. Urusan memutilasi, nampaknya orang daerah sudah mulai terbiasa mendengar dan, sayangnya, mempraktekkannya.

Setiap hari televisi nasional kita memompakan kesan bahwa Jakarta lah satu-satunya wilayah Indonesia. Daerah-daerah lain hanya menjadi wilayah penyangganya. Setiap masalah yang timbul di Jakarta sering menjadi casus belli dibuatnya undang undang atau peraturan yang berlaku bagi seluruh negeri. Orang-orang di daerah bingung mencoba mengunyah seluruh kenyataan yang nampak tak masuk akal. Istilah popnya, orang Jakarta makan nangkanya, orang daerah kena getahnya.

Bagi orang daerah, Jakarta adalah kota yang absurd. Besar, berkuasa, tapi aneh. Kecuali bagi pejabat atau pengusaha daerah yang sering dan harus kesana, Jakarta adalah nenek tua yang banyak mau, cari perhatian, dan bermake-up tebal. Pemerintah DKI Jakarta silih berganti mencanangkan Jakarta sebagai pusat politik, pusat pemerintahan, pusat budaya, pusat pergudangan, pusat bisnis dan perdagangan, pusat pariwisata, dan pusat-pusat lainnya. Sungguh sebuah ambisi yang berlebihan jika ditilik secara alamiah maupun ilmiah.

 

Fungsi Kota

Menurut ilmu antropologi kota, sebuah kota idealnya mempunyai paling banyak tiga fungsi, misalnya pusat pemerintahan, pusat politik dan wisata. Washington, DC, Amerika Serikat, telah menyandang fungsi-fungsi tersebut secara optimal. Ibukota Amerika Serikat itu menjadi kota anggun, fungsional, dan tidak macet. Demikian juga New York, yang dipahami sebagai kota perdagangan, pusat gaya hidup dan wisata. Bersama Los Angeles, the big apple tidak berminat menjadi pusat politik dan pemerintahan Amerika Serikat.

Hal sama terjadi di kota-kota seperti Darwin sebagai pusat pemerintahan dan Sydney sebagi pusat bisnis di Australia. New Delhi relatif lebih tenang dibandingkan Mumbai di India. Begitu pula perbedaan fungsi Beijing dan Shanghai di China, dan beberapa kota lain di dunia. Walaupun kita tidak juga memungkiri bahwa kota-kota besar seperti London, Tokyo, Kuala Lumpur dan lainnya, masih mampu mengelola fungsi-fungsi sangat banyak sekaligus. Mereka tumbuh menjadi kota besar megapolitan yang seluruh dimensi, baik fisik mapun sosial psikologis, berbeda dengan pemukiman lain yang jauh lebih kecil.

 

Kampung Besar

Namun Jakarta berbeda. Kota berpenduduk hampir 15 juta jiwa ini hampir kehabisan daya dukung alam dan lingkungan sosial. Berita dari Jakarta, hampir selalu berkaitan dengan berita buruk. Ide, masalah, pengambilan keputusan orang-orang Jakarta, selalu terlihat aneh bagi orang daerah. Celakanya, setiap ide, masalah, maupun keputusan-keputusan orang Jakarta, baik resmi atau tidak, sering menjadi acuan orang daerah dalam membuat keputusan di daerahnya sendiri.

Padahal, Jakarta tidak lebih dari sebuah ibukota negara miskin yang kumuh. Setiap pergulatan pemikiran dan ide selalu berkisar dari kenyataan itu. Repotnya, para manusia pemerintah pusat adalah juga warga Jakarta yang anomali ini. Gaya berpikir mereka jelas terpengaruh oleh situasi keseharian mereka. Akibatnya, peraturan, ide, solusi pemerintah pusat cenderung tidak realistik bagi daerah yang berbeda dengan situasi Jakarta.

Tentu saja daerah-daerah tidak perlu harus mengikuti gaya orang Jakarta. Terutama bagi daerah-daerah penghasil devisa. Menjadi daerah yang memiliki identitas, harga diri, tidak ‘celamitan’, produktif dan kreatif adalah modal untuk bertahan di masa depan. Cuma sayangnya, APBD kabupaten dan kota se Jawa saja dipasok Jakarta sampai 85%- 90%. Sementara PAD mereka tidak lebih dari 10-15% saja. Ini adalah daerah-daerah muram tak berpengharapan. Proyeksi tentang Pulau Jawa menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi per kapita semakin menurun menuju kebangkrutan.

Apatah yang bisa diharapkan pemerintah daerah di kota dan kabupaten di Pulau Jawa, selain mengekor kebijakan Jakarta dengan segala petunjuk dan aturannya yang aneh dan absurd. Jika tidak, duit dari pusat akan seret. DAU dan DAK berkurang. Pun, pemerintah daerah akan kehilangan proyek-proyek, walaupun proyek itu hanya akan membuat kota atau daerah menjadi centang perenang seperti meja makan yang ditinggalkan setelah pesta usai.

 

Pusat Komunikasi

Bagian terburuk dari hubungan Jakarta dan daerah adalah di sisi komunikasi. Tidak ada dialog. Tidak ada posisi tawar. Orang daerah digelontor habis oleh acara-acara televisi yang Jakarta sentris. Sekarang hampir semua produk hiburan televisi memakai bahasa Melayu Betawi yang sudah disesuaikan. Bahasa ini sudah menjadi bahasa gengsi bagi anak-anak muda di seluruh negeri. Ungkapan-ungkapan bergaya ibukota menjadi bahasa baku penyiar radio daerah dan presenter kampung. Para produser eksekutif ibukota dengan arogan memilah-milah produk kesenian industrial dengan produk kesenian pinggiran. Terjadi pengemasan budaya yang dibungkus cantik, namun dengan banyak pembohongan dan pencurian ide. Lebih gila lagi, pengarusutamaan budaya Jakarta sebagai budaya negeri menjadi bekal para penguasa dari Jakarta memelintir logika dan kearifan lokal.

Jakarta juga menjadi tempat kolusi dan mafia peradilan yang kronis. Di daerah-daerah, hanya pejabat dan penjahat besar dan telengas saja yang berani melakukan kolusi hukum, namun bagi seorang Gayus, seorang warga Jakarta semenjana, hukum adalah sumber penghasilan utamanya selain gaji sebagai pegawai negeri. Tidak sedikit orang-orang daerah yang datang ke Jakarta pelahan menanggalkan harga dirinya demi sesuap nasi (dan segenggam berlian).

Jakarta adalah tempat mencari makan. Sebuah kota anonim. Warga Jakarta tidak malu-malu melakukan kejahatan karena mereka tidak terikat aturan-aturan lokal yang bersifat adat dan paguyuban (gemeinschaft). Mereka hanya perlu menafsir ulang hukum-hukum positif (gesselsschaft) dan mencoba memanipulasinya.

 

Budaya Transportasi

Jika diteliti, penduduk Jakarta sebagian besar terserap di industri transportasi. Dalam industri ini, para supir adalah mayoritas. Selain itu adalah pekerja bengkel, petugas parkir, tukang tambal ban, dan perusahaan angkutan. Kalangan menengah yang diharapkan menjadikan Jakarta sebagai kota beradab, gagal dan terengah-engah menghadapi persoalan mereka sendiri. Dari kondisi tersebut, dapat ditebak arah kebudayaan Jakarta. Ibukota kita ini sejak lama sudah mengarah pada budaya jalanan yang kasar, pragmatis, dan hedonis.

Menjadi sebuah harapan melihat Jakarta tidak serakah. Melihat kemacetan lalu lintas di luar batas, dan berbaurnya kepentingan politik, keuangan, bisnis, dan pemerintahan, sudah waktunya pusat pemerintah dan politik dipindahkan ke kota lain. Jika sesuai visi 2023, sebaiknya ke luar Jawa. Jakarta sudah penuh dengan konflik kepentingan. Tidak lagi menjadi suasana yang mendidik para pejuang dan pengelola negeri dalam memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Pusat kebudayaan pun sebaiknya dipindahkan. Solo, Jogja, Bali atau Pekanbaru masih lebih layak. Melalui rekayasa sistem perkotaan (city engineering), kita tahu bahwa hal itu bisa diwujudkan. Biarlah Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, perdagangan dan keuangan.

Menjauhkan kepala negara atau politisi wakil rakyat dari Jakarta akan sangat bermanfaat bagi penduduk seluruh negeri.

 

Raga “Resa Kamesywara” Affandi

Pengamat sosial, tinggal di Pekalongan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Reposisi Science dalam Proses Belajar Mengajar

Reposisi Ilmu Pengetahuan dalam Pendidikan di Sekolah Formal

Selama ujian nasional diberlakukan, ternyata anak-anak kita mendapatkan nilai yang belum tentu benar. Soal dan jawaban di dalam ujian nasional adalah kumpulan pengetahuan yang masih terus menerus diuji kebenarannya. Ilmu pengetahuan terus berkembang, dan semakin nyata tingkat relativitasnya. Lalu, bagaimana menempatkan ilmu pengetahuan di dalam proses belajar mengajar secara benar dan bermanfaat?

Ilmu pengetahuan selama ini ditempatkan sebagai alat ukur kemampuan mengingat siswa. Secara kasat mata, seluruh kondisi pendidikan di sekolah diarahkan pada pembelajaran kognitif awal berdasarkan taksonomi Bloom. Ranah kognitif awal itu adalah mengetahui, memahami dan uji coba. Kemampuan-kemampuan ini biasanya disebut ranah kognitif tradisional atau primitif.

Menurut Bloom, tingkatan kognitif selanjutnya, yaitu tingkat analisis, tingkat sintesis, dan tingkat evaluasi, merupakan ranah kognitif tingkat lanjut. Seluruh tingkatan ranah kognitif ini berpengaruh langsung terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) yang menekankan beberpa tindakan terhadap obyek ilmiah. Tindakan-tindakan itu adalah observasi dan pengukuran, penyusunan hipotesa, penyusunan asumsi dan prediksi, dan pembuktian hipotesa melalui uji coba atau eksperimen.. Sebuah hasil yang tidak melalui pendekatan ilmiah dikategorikan sebagai pendapat spekulatif.

Ilmu Pengetahuan tidak Bebas Nilai

Berdasarkan pendapat ilmiah pula disebutkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah subyek yang bebas nilai. Ilmu pengetahuan dikelola melalui proses rumit yang melibatkan ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor dalam diri manusia. Ketika ilmu pengetahuan diserap dalam tingkatan kognitif awal, hal tersebut memang (seolah-olah) bebas nilai. Namun ketika ilmu pengetahuan dikelola secara kognitif lanjut, maka dibutuhkan asumsi-asumsi karakterisasi obyek yang bersifat nilai-nilai moral dan sikap. Seluruh produk nilai dan sikap merupakan hasil pendidikan di ranah afektif. Contoh persinggungan ini adalah perdebatan tentang kloning terhadap manusia.

Persinggungan ranah kognitif dan afektif baru dimulai di tingkat aplikasi atau penerapan. Di dalam tingkatan ini, pengujian-pengujian terhadap pengetahuan dan hasil pemahaman mendapatkan praksisnya dalam bentuk tingkah laku. Ranah afektif, menurut Bloom dan Krathwol, berperan dalam meningkatkan kesadaran dan reaksi manusia terhadap fenomena di lingkungannya. Ranah afektif juga memperkuat sikap individu dalam memberikan reaksi yang meliputi persetujuan, kesediaan dan kepuasan, berdasarkan sistem nilai yang berkembang di dalam dirinya maupun lingkungannya. Hal tersebut mendorong individu menyiapkan diri untuk melakukan tindakan.

Teori-teori Lokal

Walaupun filsafat melalui cabang epistemologi sering menyumbangkan gelombang perubahan ilmu pengetahuan tradisional melalui perenungan-perenungan deduktif, namun sistem nilai mempunyai sumbangan lebih besar dalam terbentuknya teori bahkan ilmu-ilmu domestik.

Perbedaan pandangan filsafat sampai sejauh ini belum menghasilkan perbedaan radikal dalam pendekatan ilmiah. Tradisi ilmiah yang kuat di wilayah Kaukasian memperlihatkan dominasinya selama 400 tahun terakhir. Namun melalui pendidikan di ranah afektif, pelahan-lahan manusia di berbagai belahan budaya mulai menemukan kembali identitasnya. Pendekatan ilmiah tidak selalu diasumsikan dengan obyek bersifat material. Hipotesa yang berubah menjadi teori, melalui proses deduksi dan eksperimen, bisa diperluas pada obyek-obyek non fisik, seperti fenomena dan dinamika. Istilah populer untuk menggambarkan penemuan teori dan ilmu pengetahuan lokal adalah indigenous theories, merujuk lahirnya teori-teori lokal yang memakai asumsi, postulat, penelitian, bahkan logika yang bersifat lokal.

Berkembangnya indigenous theories tidak terlepas dari berkembangnya internet sebagai sumber pengetahuan dunia. Menarik untuk disimak bahwa keterbukaan informasi justru menampilkan keragaman teori-teori baru yang dapat digunakan untuk memahami dan memprediksi situasi lokal.

Posisi Ilmu Pengetahuan dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah

Menilik suasana di atas, sudah waktunya sekolah-sekolah kita melakukan perubahan dalam menempatkan ilmu pengetahuan di dalam proses belajar mengajar. Ilmu pengetahuan tidak perlu lagi dianggap dogma atau sesuatu yang pasti benar. Jika menurut Newton atom terkecil sebuah batu adalah partikel mati, maka menurut Lao Tze (Capra), atom terkecil setiap benda adalah enerji yang hidup. Bagi ilmu pengetahuan dari timur, di dalam semesta ini semua benda hidup dan berkembang. Hal itu saja sudah mengubah hampir seluruh pandangan ilmu pengetahuan Barat yang selama ini disampaian kepada anak-anak kita. Jawaban-jawaban ujian nasional yang saat ini salah dan menyebabkan ketidaklulusan seseorang, suatu saat akan berubah benar setelah dilakukan pengujian melalui asumsi, postulat dan logika yang berbeda dengan yang digunakan saat ini.

Ilmu pengetahuan, seyogyanya ditempatkan hanya sebagai alat bagi guru untuk mengajarkan pendekatan-pendekatan ilmiah. Karena sifatnya yang relatif dan mudah usang, ilmu pengetahuan tidak patut dijadikan alat pertimbangan kelulusan seseorang. Bagi para murid, ilmu pengetahuan adalah sarana melatih ranah kognitif mereka. Keharusan untuk menuntaskan materi kurikulum sebaiknya diubah menjadi keharusan menuntaskan ranah kognitif, mulai dari tingkat pengetahuan sampai tingkat evaluasi. Ketidaktuntasan dalam mempelajari pendekatan ilmiah ini justru akan menyesatkan seluruh proses pendidikan.

Peranan Ranah Afektif dalam Pendidikan

Terjadinya pertemuan antara ranah kognitif dengan ranah afektif di tingkat kognitif lanjut merupakan sebuah keniscayaan. Melalui pengalaman di tingkat aplikasi atau ujicoba, terlihat bahwa unsur perilaku sangat mempengaruhi hasil sebuah aplikasi. Di tingkat tersebut juga diperkaya oleh ranah psikomotor melalui ujicoba pancaindra dan penelitian lapangan. Di tingkat evaluasi, perbedaan penilaian di antara budaya yang berbeda tidak menunjukkan penilaian (valuing) bersifat kontinum, melainkan bersifat diskrit.

Unsur-unsur seperti letak geografis, religi, demografis, teknologi, sejarah, dan fisik mempengaruhi tingkah laku individu. Tingkah laku individu akan menjadi model bagi terbentuknya kebiasaan (habits) sebuah entitas sosial. Kebiasaan yang berulang akan membentuk sistem nilai yang bermuara pada terciptanya budaya setempat (Kuncaraningrat). Dari proses ini nampak bahwa ranah afektif memegang peranan penting dalam pembentukan sistem nilai. Ranah afektif dengan demikian menjadi determinan bagi terbentuknya sikap dan perilaku.

Pendidikan ranah afektif adalah pendidikan yang lebih mempengaruhi status kejiwaan seperti penanaman nilai, pengendalian emosi dan penyadaran rasa. Dalam situasi tertentu, pendidikan afektif adalah cikal bakal terbentuknya pembentukan karakter (character building) yang akan menjadi panduan siswa untuk menghadapi dunia nyata.

Pendidikan yang Seimbang

Menjadi kewajiban sekolah-sekolah untuk melaksanakan pendidikan di ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang. Krisis yang melanda pendidikan kita adalah karena konsentrasi berlebihan terhadap pembelajaran di ranah kognitif, yang celakanya hanya terbatas pada tingkatan primitif. Jika hal ini dipertahankan, kita harus menganggap bahwa proses pendidikan saat ini adalah sebuah persekongkolan jahat untuk mengerdilkan bangsa kita

Raga Affandi

Pemerhati Pendidikan, tinggal di Pekalongan

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar